Food Fact
[FOOD FACT] Ekstrak Kulit Kentang dapat dijadikan sebagai Sumber Antioksidan
March 24, 2017
0

Selamat Malam Foodfighters! NOW FOODFACT TIME!!

Tahukah kamu? Ternyata, ekstrak kulit kentang dapat dijadikan sebagai sumber antioksidan pada bidang farmasi lho. Penasaran? Check this out!

Pada bidang farmasi, bahan-bahan yang digunakan tidak hanya berasal dari bahan-bahan kimia saja. Tetapi dapat juga berasal dari bahan alami. Misalnya pada cold cream, cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk maksud memberikan rasa dingin dan nyaman pada kulit, sebagai krim pembersih, berwarna putih dan bebas dari butiran. Cold cream mengandung mineral oil dalam jumlah besar. Cold cream merupakan krim dasar yang fungsi utamanya untuk mendinginkan dan melemaskan kulit. Cold cream termasuk dalam “keluarga” krim muka.

Perkembangan kosmetika di Indonesia sangatlah pesat, hampir semua wanita dan pria menggunakan kosmetika setiap harinya. Selain digunakan untuk mempercantik diri, kosmetika juga digunakan untuk perawatan untuk menjaga agar kulit tubuh terlihat lebih sehat, segar bugar dan halus.

Masalah yang sering dihadapi dalam sediaan krim adalah kerusakan oksidatif lemak dalam basis selama masa penyimpanan yang dapat mengakibatkan penurunan kualitas. Bahan dasar krim yang memiliki kandungan lemak tinggi mudah mengalami ketengikan akibat reaksi hidrolisis dan oksidasi sehingga kualitasnya menurun. Salah satu cara untuk mencegah ketengikan ini adalah dengan penambahan antioksidan pada basis yang disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Diantara jenis antioksidan sintetis, yang banyak digunakan adalah BHA (Butil Hidroksi Anisol) dan BHT (Butil Hidroksi Toluen). Dalam sediaan krim selain memanfaatkan antioksidan sintetis, banyak juga senyawa antioksidan yang bersumber dari alam. Meningkatnya penggunaan antioksidan alami telah mendorong penelitian tentang sumber-sumber nabati karena mengandung banyak senyawa yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan.

Sebagai bahan makanan, kentang banyak mengandung karbohidrat, sumber mineral (fosfor, besi, dan kalium), mengandung vitamin B (tiamin, niasin, vitamin B6), antioksidan dan sedikit vitamin A. Senyawa antioksidan yang terdapat pada kentang yaitu antosianin, asam klorogenat, dan asam askorbat (Soelarso dan Bambang, 1997).

Antioksidan dalam kulit kentang adalah asam klorogenat. Asam klorogenat mempunyai aktivitas antioksidan mencegah terjadinya radikal bebas. Kandungan total fenolat dalam ekstrak ditetapkan dengan spektrofotometri UV-sinar tampak menggunakan metode Folin Ciocalcu dan dihitung setara dengan asam galat. Berdasarkan penelitian sebelumnya kulit kentang bila diekstraksi dengan metanol menunjukkan aktivitas antioksidan kulit kentang setara dengan antioksidan sintetik BHA dan BHT (Azadeh et al., 2012). Menurut Rodriguez de Sotillo at al., (1994) limbah kulit kentang dengan pelarut ait mengandung fenolat yaitu asam klorogenat, asam gallat, protokatelat, dan asam kafenat.

Limbah kulit kentang sisa pengolahan produk makanan dapat dianggap sebagai sumber baru antioksidan alami. Kulit kentang ditemukan mengandung asam fenolik (Lisinska & Leszczynski, 1987).

Lalu, senyawa apa saja yang berperan sebagai antioksidan?

Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa simplisia kulit kentang mengandung senyawa berupa flavonoid, tanin, polifenolat, monoterpen dan seskuiterpen yang tahan terhadap proses autoklaf.

Dari hasil penapisan fitokimia, senyawa yang biasanya memiliki aktivitas antioksidan adalah flavonoid. Senyawa antioksidan yang terdapat pada kulit kentang yaitu antosianin, asam klorogenat, dan asam askorbat (Soelarso dan Bambang, 1997). Asam klorogenat mempunyai aktivitas antioksidan mencegah terjadinya radikal bebas (Rodriguez de Sotillo et al., 1994).

Evaluasi Sediaan Krim

Aktivitas antioksidan ekstrak kulit kentang dalam sediaan krim diukur dengan cara menghitung angka peroksida pada masing-masing formula setiap interval waktu tertentu selama 28 hari pada suhu 40oC. Ekstrak kulit kentang yang ditambahkan diharapkan akan menghambat oksidasi lemak sehingga nilai peroksida pada sediaan krim akan menurun seiring pertambahan hari.

Berdasarkan pengamatan angka peroksida terendah dihasilkan oleh F3 pada hari ke-28. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan yang mengandung antioksidan sintetik BHT bekerja dalam menghambat angka peroksida hingga 2 meq/kg pada hari ke-28. Sedangkan sediaan dengan ekstrak kulit kentang F2 dapat menghambat angka peroksida hingga 4 meq/kg pada hari ke-28. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan ekstrak kulit memberikan aktivitas antioksidan yang dihasilkan. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hanani et al. (2005) yaitu bahwa persentase penghambatan ekstrak terhadap aktivitas radikal bebas meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi ekstrak.

Seluruh data hasil evaluasi kadar peroksida selama penyimpanan 28 hari pada suhu 40 oC dianalisis dengan Anova yang dilanjutkan dengan uji posthoc LSD, sedangkan pada hari ke-28 nilai signifikansi F2 kurang dari 0,05 terhadap F3, sehingga dapat dikatakan bahwa angka peroksida sediaan krim yang mengandung ekstrak kulit kentang 200 ppm berbeda bermakna dengan bilangan peroksida pada pembanding.

Sediaan krim yang mengandung ekstrak kulit kentang 200 ppm dapat menghambat pembentukan peroksida hingga hari ke-14.

Berdasarkan uji statistika ANOVA angka peroksida pada hari ke-28 nilai signifikansi F2 kurang dari 0,05 terhadap F3, sehingga dapat dikatakan bahwa angka peroksida sediaan krim yang mengandung ekstrak kulit kentang 200 ppm berbeda bermakna dengan bilangan peroksida pada pembanding.

Jadi dengan penambahan ekstrak Kulit Kentang pada bahan Cold cream dapat disimpulkan bahwa pada hari penyimpanan ke-28 menunjukan semakin tingginya aktivitas oksidannya, dilihat dari semakin rendahnya bilangan peroksida.

Sekian, ternyata berbagai bahan pangan dapat dimanfaatkan tidak hanya di bidang pangan saja tetapi juga dimanfaatkan dibidang lainnya. Semoga ilmu yang dibagikan dapat bermanfaat untuk kita semua. Happy Monday! Sampai jumpa minggu depan foodfighters!!

Sumber:
karyailmiah.unisba.ac.id/index.php/farmasi/article/download/1931/pdf