Food Fact
[FOOD FACT] Manfaat Mengkonsumsi Teh
December 18, 2020
0

KONSUMSI TEH HIJAU ITU PENTING ATAU HANYA GAYA HIDUP ?

Dibuat Oleh Vanni Sochi Putra Mulyadi

Memiliki badan yang sehat dan bugar merupakan idaman semua kalangan masyarakat, namun tidak sedikit orang yang kurang  mementingkan hal tersebut. Perkembangan zaman lama kelamaan mengkikis kebiasaan masyarakat dalam mewujudkan pola hidup yang sehat. Hal ini disebabkan semakin banyaknya makanan-makanan yang kurang sehat atau bahkan tidak bergizi sama sekali. Makanan yang digemari oleh hampir seluruh kalangan masyarakat salah satunya berupa Junk Food, menurut(Junk Food | Definition of Junk Food by Merriam-Webster, n.d.) Junk Food yaitu makanan yang berkalori tinggi namun bergizi rendah. Bahkan menurut (Ashakiran & Deepthi, 2012)Junk Food memiliki dampak penyakit berupa masalah gizi lebih (obesitas), diabetes mellitus, hipertensi, bahkan jantung koroner.

Penyakit-penyakit tersebut dapat dipicu oleh pola hidup yang tidak sehat . Namun masih banyak masyarakat yang masih menerapkan pola hidup sehat berupa mengatur pola makan yang baik, memilih dan memilah makanan dan minuman yang hendak dikonsumsi dan berolahraga secara teratur. Salah satu opsi bagi para masyarakat yang menerapkan pola hidup sehat yakni rutin meminum teh. Teh diyakini memiliki segudang manfaat bagi tubuh, diantaranya menurunkan tekanan darah tinggi, sebagai antioksidan, mencegah penyakit Aterosklerosis, kanker, penyakit mulut dan tulang (McKay & Blumberg, 2002)

Teh merupakan minuman yang mengandung kafeina, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi empat kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Tanaman teh ditemukan ditemukan dan berasal, tepatnya di provinsi Yunnan, bagian barat daya Tiongkok. Berdasarkan studi (Sriyadi et al., 2012) Teh diintroduksikan dari Jepang oleh orang Jerman, Andreas Cleyer pada 1664 dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Pada 1827, teh dibudidayakan dalam skala besar di Kebun Percobaan Cisurupan, Jawa Barat. Selanjutnya, teh mulai berkembang di Jawa. Setelah itu, Rudolf Edward Kerkhoven membawa Camellia sinensis var. assamica (Masters) tipe Chang pada 1877 ke Jawa dari Sri Lanka (Ceylon) dan ditanam di kabupaten Gambung, Jawa Barat (saat ini kantor Pusat Penelitian Teh dan Kina Indonesia)

Salah satu teh yang populer dengan berbagai khasiat dan manfaat nya yakni the hijau. Teh hijau dibagi menjadi dua jenis, yakni teh hijau Panning dan teh hijau Steaming. Perbedaan nya terletak pada proses pengolahan dan suhu yang digunakan, pada teh hijau Panning menggunakan Rotary Dryer dengan suhu hingga 180oC sedangkan pada teh hijau Steaming dilakukan pengukusan atau penguapan pada suhu 100oC keduanya bertujuan untuk menginaktifasi enzim oksidase. Proses pembuatan teh hijau yaitu dimulai dari proses pelayuan lalu dilakukan Steaming atau Panning lalu di lakukan penggulungan dan diakhiri dengan pengeringan. Teh hijau mengandung katekin berupa Epigallocatechin-3-gallate, Epigallocatechin, epicatechin-3-gallate dan epicatechin (Singh, 2014)

Aktivitas antikoksidan

                Teh hijau mengandung banyak sekali sumber antioksidan dengan ditandai banyaknya kandungan polifenol seperti katekin dan asam galat, karoten, tokoferol, asam askorbat, beberapa mineral seperti Cr, Mn, Se, atau Zn. Zat-zat ini dapat menaikan potensi polifenol antioksidan dari teh hijau. Menurut McKay and Blumberg (McKay & Blumberg, 2002) konsumsi teh hijau dan the hijau enkapsulasi secara berulang selama 1 sampai 4 minggu mampu mengurangi oksidasi status dari para respon.  Berdasarkan observasi (Klaunig et al., 1999)  dengan 40 pria perokok di cina dan 27 pria dan perempuan (perokok dan tidak perokok) di amerika serikat, bahwa oksidasi kerusakan DNA, radikal bebas, berkurang setelah konsumsi 6 gelas perhari the hijau selama 7 hari. Menurut (Erba et al., 2005) konsumsi teh hijau secara teratur dengan dibarengi diet yang terkontrol dapat meningkatkan status antikoksidan dan melawan radikal bebas.

Potensi anti karsinogenik dan anti mutagenik

                Anti Karsinogenik yaitu senyawa kimia yang mampu melawan atau menurunkan resiko timbulnya kanker, sedangkan anti mutagenic yaitu sebuah zat yang mampu mengurangi atau mencegah terjadinya perubahan-perubahan atau mutase pada gen (Anticarcinogen – Definition of Anticarcinogen by The Free Dictionary, n.d.; Antimutagen (CHEBI:73190), n.d.). Pola hidup yang tidak sehat memicu timbulnya berbagai penyakit termasuk kanker, walaupun masih tergolong pada penyakit yang didasarkan oleh usia. Zat anti karsinogenik dan anti mutagenic dapat diperoleh dari teh hijau, berdasarkan studi (Chung et al., 2003) peran teh hijau terhadap penanggulangan dan pencegahan kanker ternyata memberikan hasil yang positif. Berdasarkan studi (Wu et al., 2003) terdapat penurunan resiko kanker payudara secara signifikan dengan semakin banyaknya the yang dikonsumsi. Penurunan resiko kanker prostat juga menurun seiring rutinnya konsumi teh hijau pada 650 responden control dan 130 pasien kanker prostat (Jian et al., 2004)

Anti hipertensi dan penyakit kardiovaskular

                Hipertensi atau tekanan darah tinggi yaitu suatu penyakit yang disebabkan adanya tekanan darah yang secara paksa tersirkulasi di dalam tubuh, sehingga tekanan darah menjadi meningkat (Hypertension| WHO, n.d.). Teh hijau telah dipercayai sejak lama sebagai obat atau minuman yang dapat menurunkan resiko terjadinya hipertensi oleh masyarakat cina. Berdasarkan penelitian (Yang et al., 2004) konsumsi teh hijau atau the oolong sebanyak 120mL/hari atau lebih selama setahun menurunkan resiko terjadinya hipertensi pada masyarakat cina. Peters, 2001 mengungkapkan bahwa semakin tingginya konsumsi teh hijau mampu menekan atau bahkan menurunkan tingkat penyakit kardiovaskular.

Fungsi lainnya

                Selain hal yang diatas, teh hijau ternyata memiliki beberapa khasiat lagi terkait pada peningkatan tingkat kualitas hidup, diantaranya melindungi kebersihan mulut (oral), melindungi dari sinar UV dan mampu mengontrol berat badan. Berdasarkan studi (Simpson et al., 2001) setelah cuci mulut menggunakan teh, diperkirakan 34% dari Flouride menunjukkan ikatan yang sangat kuat dengan lapisan dalam mulut. Flouride ini memiliki manfaat dalam mencegah karies dan mampu menanggulangi rontoknya gigi dan kanker mulut. Sinat UV memiliki dampak yang kurang bagus bagi kulit manusia, maka dari itu banyak masyarakat memakai sun block demi mengurangi paparan dari sinar UV, namun berdasarkan penelitian (Katiyar, 2011; Lee et al., 2004) bahwa polifenol pada teh hijau dapat digunakan sebagai zat pencegah dari sinar UVB, kelainan kulit, hingga kanker kulit tipe melanoma dan non-melanoma. Kafein dan tannin yang terkandung pada teh hijau dapat memperkuat efek Polifenol pada proses penurunan berat badan (Kovacs et al., 2004)

Kesimpulan

                Pola hidup yang tidak teratur atau bahkan tidak sehat mampu menimbulkan beberapa penyakit seperti hipertensi, obesitas, dan penyakit-penyakit lainnya. Salah satu pola hidup sehat yaitu memilih dan memilah makanan atau minuman yang hendak dikonsumsi, salah satu pola hidup sehat yang dapat masyarakat lakukan yakni rutin meminum teh hijau. Teh hijau diyakini mampu menangkal radikal bebas dan penyakit-penyakit lainnya. Rutin mengkonsumsi teh hijau juga mampu menurunkan berat badan, dan menjaga kesehatan mulut. Mulai sekarang rutin lah mengkonsumsi teh hijau.

 

 

Referensi

Anticarcinogen – definition of anticarcinogen by The Free Dictionary. (n.d.). Retrieved October 2, 2020, from https://www.thefreedictionary.com/anticarcinogen

antimutagen (CHEBI:73190). (n.d.). Retrieved October 2, 2020, from https://www.ebi.ac.uk/chebi/chebiOntology.do?chebiId=CHEBI:73190

Ashakiran, S., & Deepthi, R. (2012). Fast foods and their impact on health. In Journal of Krishna Institute of Medical Sciences University.

Chung, F.-L., Schwartz, J., Herzog, C. R., & Yang, Y.-M. (2003). Tea and Cancer Prevention: Studies in Animals and Humans. The Journal of Nutrition, 133(10), 3268S-3274S. https://doi.org/10.1093/jn/133.10.3268S

Erba, D., Riso, P., Bordoni, A., Foti, P., Biagi, P. L., & Testolin, G. (2005). Effectiveness of moderate green tea consumption on antioxidative status and plasma lipid profile in humans. Journal of Nutritional Biochemistry, 16(3), 144–149. https://doi.org/10.1016/j.jnutbio.2004.11.006

Hypertension| WHO. (n.d.). Retrieved October 1, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension

Jian, L., Xie, L. P., Lee, A. H., & Binns, C. W. (2004). Protective effect of green tea against prostate cancer: A case-control study in southeast China. International Journal of Cancer, 108(1), 130–135. https://doi.org/10.1002/ijc.11550

Junk Food | Definition of Junk Food by Merriam-Webster. (n.d.). Retrieved September 29, 2020, from https://www.merriam-webster.com/dictionary/junk food

Katiyar, S. K. (2011). Green tea prevents non-melanoma skin cancer by enhancing DNA repair. Archives of Biochemistry and Biophysics, 508(2), 152–158. https://doi.org/10.1016/j.abb.2010.11.015

Klaunig, J. E., xu, Y., Han, C., Kamendulis, L. M., Chen, J., Heiser, C., Gordon, M. S., & Mohler, E. R. (1999). The Effect Of Tea Consumption On Oxidative Stress In Smokers And Nonsmokers. Proceedings of the Society for Experimental Biology and Medicine, 220(4), 249–254. https://doi.org/10.3181/00379727-220-44375

Kovacs, E. M. R., Lejeune, M. P. G. M., Nijs, I., & Westerterp-Plantenga, M. S. (2004). Effects of green tea on weight maintenance after body-weight loss. British Journal of Nutrition, 91(3), 431–437. https://doi.org/10.1079/bjn20041061

Lee, M. J., Lambert, J. D., Prabhu, S., Meng, X., Lu, H., Maliakal, P., Ho, C. T., & Yang, C. S. (2004). Delivery of Tea Polyphenols to the Oral Cavity by Green Tea Leaves and Black Tea Extract. Cancer Epidemiology Biomarkers and Prevention, 13(1), 132–137. https://doi.org/10.1158/1055-9965.EPI-03-0040

McKay, D. L., & Blumberg, J. B. (2002). The Role of Tea in Human Health: An Update. Journal of the American College of Nutrition, 21(1), 1–13. https://doi.org/10.1080/07315724.2002.10719187

Peters, U. (2001). Does Tea Affect Cardiovascular Disease? A Meta-Analysis. American Journal of Epidemiology, 154(6), 495–503. https://doi.org/10.1093/aje/154.6.495

Simpson, A., Shaw, L., & Smith, A. J. (2001). The bio-availability of fluoride from black tea. Journal of Dentistry, 29(1), 15–21. https://doi.org/10.1016/S0300-5712(00)00054-3

Singh, V. (2014). Processing Technology and Health Benefits of Green Tea. Pop. Kheti, 2(1), 23–30. https://www.researchgate.net/publication/261547299_Processing_Technology_and_Health_Benefits_of_Green_Tea

Sriyadi, B., Suprihatini, R., & Khomaeni, H. S. (2012). The Development of High Yielding Tea Clones to Increase Indonesian Tea Production. Advanced Topics in Science and Technology in China, 7, 299–308. https://doi.org/10.1007/978-3-642-31878-8_10

Wu, A. H., Yu, M. C., Tseng, C. C., Hankin, J., & Pike, M. C. (2003). Green tea and risk of breast cancer in Asian Americans. International Journal of Cancer, 106(4), 574–579. https://doi.org/10.1002/ijc.11259

Yang, Y. C., Lu, F. H., & Wu, J. S. (2004). The protective effect of habitual tea consumption on hypertension. ACC Current Journal Review, 13(10), 18. https://doi.org/10.1016/j.accreview.2004.08.107