Food Fact
[FOOD FACT] Pengaruh Jumlah Ragi dan Waktu Fermentasi terhadap Kadar Bioetanol yang Dihasilkan dari Fermentasi Kulit Pepaya
May 6, 2017
0

Hallo Foodfghters, seperti biasa setiap Senin kita akan share tentang FOOD FACT. Pagi ini kita mau membagikan salah satu Fakta tentang “Pengaruh Jumlah Ragi dan Waktu Fermentasi terhadap Kadar Bioetanol yang Dihasilkan dari Fermentasi Kulit Pepaya”Sebelumnya ada yang tau gak sih pengaruh jumlah ragi dan waktu fermentasi terhadap kadar bioethanol yang dihasilkan dari fermentasi kulit papaya? Penasarankan? Yuk simak penjelasan dibawah ini.

Bioetanol adalah bahan bakar paling dikenal sebaik biofuel dan merupakan alkohol yang dihasilkan dari jagung, sorgum, kentang, gandum, tebu, bahkan biomassa seperti batang jagung dan limbah sayuran. Bioetanol memiliki banyak fungsi dan kegunaan, diantaranya sebagai pelarut. Bioetanol belakangan ini dikenal sebagai salah satu bahan bakar alternatif yang cukup potensial, selain dapat dibuat dengan mudah dan dengan biaya murah,bioetanol juga dapat dibuat dari berbagai bahan baku yang ada di alam. Penyediaan energi pada masa depan merupakan permasalahan yang senantiasa menjadi perhatian semua bangsa karena kesejahteraan manusia dalam kehidupan moderen sangat terkait dengan jumlah dan mutu energi yang dimanfaatkan.

Produksi bioetanol dari tanaman yang mengandung glukosa yang selanjutnya dilakukan proses fermentasi atau peragian dengan menambahkan yeast atau ragi sehingga diperoleh bioetanol sebagai sumber energi. Menurut Fitriani (2012) pembuatan bioetanol dari sari kulit nanas dipengaruhi oleh jenis ragi dan jumlah ragi yang dipakai, fermentasi menggunakan ragi roti dapat menghasilkan kadar bioetanol yang lebih tinggi daripada penggunaan ragi tape.

Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa variabel terbaik diperoleh pada waktu fermentasi 4 dan 5 hari dengan jumlah ragi roti 4 gram dari bahan baku kulit nanas 200 gr di mana diperoleh bioetanol dengan kadar 70 % dengan volume 16 ml, sedangkan pada ragi tape kadar bioetanol yang diperoleh sebesar 65 % dengan volume 14 ml. Penelitian ini akan menggunakan bahan baku kulit pepaya dengan memvariasikan jumlah ragi dan waktu fermentasi.

Bioetanol dihasilkan dari gula yang merupakan hasil aktivitas fermentasi sel khamir. Khamir yang baik digunakan untuk menghasilkan bioetanol adalah dari genus Saccharomyces. Saccharomyces cerevisiae menghasilkan enzim zimase dan invertase. Enzim zimase berfungsi sebagai pemecah sukrosa menjadi monosakarida (glukosa dan fruktosa). Enzim invertase selanjutnya mengubah glukosa menjadi bioetanol (Judoamidjojo dkk, 1992). Kriteria pemilihan khamir untuk produksi bioetanol adalah mempunyai laju fermentasi dan laju pertumbuhan cepat, perolehan bioetanol banyak, tahan terhadap konsentrasi bioetanol dan glukosa tinggi, tahan terhadap konsentrasi garam tinggi, pH optimum fermentasi rendah, temperatur optimum fermentasi sekitar 25-30 0C.

Menurut Asngad dkk (2011), semakin lama proses fermentasi dan semakin banyak dosis ragi yang diberikan maka volume bioetanol semakin meningkat. Volume bioetanol yang tertinggi diperoleh pada waktu fermentasi 15 hari. Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu tersebut aktivitas khamir Saccaromyces cerevisiae bekerja secara optimal serta kegiatan enzimatis tidak terhambat. Waktu fermentasi berpengaruh terhadap hasil perolehan bioetanol di mana semakin lama waktu fermentasi maka perolehan bioetanol akan meningkatkan. Namun bila fermentasi terlalu lama maka nutrisi dalam substrat akan habis dan khamir Saccaromyces cerevisiae tidak lagi dapat memfermentasi bahan. Pada perlakuan penambahan 20 gram Saccaromyces cerevisiae, dan waktu fermentasi 5 hari diperoleh volume bioetanol 26,30 ml, sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan perlakuan penambahan 15 g Saccaromyces cerevisiae di mana diperoleh kadar bioetanol 26,93 ml. Hal ini dikarenakan jumlah nutrisi yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah Saccaromyces cerevisiae yang lebih banyak, sehingga Saccharomyces cereviceae kekurangan makanan yang mengakibatkan kinerja Saccharomyces cereviceae menurun dan mengakibatkan volume bioetanol yang dihasilkan akan menurun juga.

Jadi kesimpulannya semakin lama proses fermentasi dan semakin banyak dosis ragi yang diberikan maka volume bioetanol semakin meningkat. Namun bila fermentasi terlalu lama maka nutrisi dalam substrat akan habis dan khamir Saccaromyces cerevisiae tidak lagi dapat memfermentasi bahan. Nah sekarang tau kan pengaruh jumlah ragi dan waktu fermentasi terhadap kadar bioethanol yang dihasilkan dari fermentasi kulit papaya.

Mugkin sekian Food Fact untuk kali ini, semoga yang kami bagikan dapat bermanfaat dan menjadi ilmu bagi foodfighters. HAPPY Monday

Sumber: http://jtk.unimal.ac.id/index.php/jtk/article/download/1/1